Kalender Jawa sekilas terlihat mirip kalender Masehi, tetapi ada satu perbedaan utama: setiap tanggal juga membawa pasaran yang berputar lima hari sekali. Berikut cara membaca kalender Jawa dengan benar.
1. Hari Saptawara (7 Hari)
Sama seperti Masehi, kalender Jawa mengenal tujuh hari dalam sepekan:
- Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
Ini disebut saptawara — berasal dari bahasa Sanskerta untuk "tujuh hari".
2. Pasaran (Siklus 5 Hari)
Selain hari biasa, setiap hari memiliki pasaran yang bergantian dalam urutan tetap:
- Legi
- Pahing
- Pon
- Wage
- Kliwon
Setelah Kliwon kembali ke Legi, dan seterusnya tanpa henti.
3. Weton = Hari + Pasaran
Weton adalah gabungan keduanya. Contoh cara membacanya:
- Tanggal 17 Agustus 2026 jatuh pada hari Senin dengan pasaran Pahing, maka wetonnya Senin Pahing.
- Tanggal 25 Desember 2026 jatuh pada hari Jumat dengan pasaran Pahing — wetonnya Jumat Pahing.
Untuk tahu pasaran dari tanggal apa pun, gunakan Cek Weton.
4. Neptu: Nilai Hari dan Pasaran
Setiap hari dan pasaran memiliki nilai neptu:
Neptu Hari:
- Ahad (Minggu) 5, Senin 3, Selasa 7, Rabu 8, Kamis 6, Jumat 4, Sabtu 9
Neptu Pasaran:
- Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, Kliwon 8
Jumlah neptu hari + pasaran menghasilkan angka yang dipakai untuk perhitungan tradisional, misalnya kecocokan jodoh atau hari baik.
5. Wuku
Kalender Jawa juga mencantumkan wuku — periode 7 hari yang diberi nama (ada 30 wuku). Wuku digunakan dalam perhitungan pawukon dan beberapa tradisi pertanian serta ritual.
Cara Praktis
Daripada menghitung manual, langkah termudah:
- Buka Cek Weton.
- Pilih tanggal di datepicker.
- Lihat hasil: hari, pasaran, weton, neptu, wuku, dan pranata mangsa.
Dengan memahami struktur ini, kalender Jawa tidak lagi membingungkan — Anda bisa membaca weton siapa pun dalam hitungan detik.


