Sistem Kalender Jawa dan Pasaran: Cara Kerja Penanggalan Tradisional

โ€ข
jawapasaranwetonbudaya
Sistem Kalender Jawa dan Pasaran: Cara Kerja Penanggalan Tradisional
Sumber: Tradisi Budaya Jawa โ†’ Lihat Sumber

Kalender Jawa adalah sistem penanggalan yang telah digunakan masyarakat Jawa selama berabad-abad. Keunikannya terletak pada perpaduan sistem penanggalan dan hadirnya pasaran โ€” siklus lima hari yang tidak ada di kalender Masehi atau Hijriah.

Dasar Kalender Jawa

Kalender Jawa menggabungkan:

  • Sistem lunar (berbasis bulan) untuk penanggalan, mengikuti peredaran Bulan seperti kalender Hijriah.
  • Sistem solar (berbasis matahari) pada beberapa aspek seperti pranata mangsa (musim).
  • Penanda waktu Saka dengan tahun Jawa yang berbeda dari tahun Masehi.

Apa Itu Pasaran

Pasaran adalah siklus lima hari yang berjalan terus-menerus, tidak berhenti saat bulan berganti. Kelima pasaran tersebut adalah:

  1. Legi (Manis)
  2. Pahing (Pahit)
  3. Pon
  4. Wage
  5. Kliwon (Kasih)

Karena ada 7 hari dalam sepekan (Mingguโ€“Sabtu) dan 5 pasaran, kombinasi keduanya membentuk siklus 35 hari yang disebut selapan.

Weton: Gabungan Hari dan Pasaran

Weton adalah nama gabungan hari dan pasaran pada suatu tanggal, misalnya Senin Legi, Rabu Kliwon, atau Jumat Pahing. Weton inilah yang paling sering dicari orang Jawa untuk:

  • Menentukan hari baik acara (pernikahan, pindah rumah, hajatan).
  • Menghitung neptu (nilai numerik hari + pasaran).
  • Melihat watak atau sifat berdasarkan weton kelahiran.

Wuku dan Pawukon

Selain pasaran, kalender Jawa juga mengenal wuku โ€” sistem 30 wuku dalam satu siklus pawukon yang masing-masing berlangsung 7 hari (total 210 hari). Setiap wuku memiliki karakter dan dipercaya memengaruhi peristiwa pada periode tersebut.

Cek Weton Tanggal Anda

Ingin tahu weton, pasaran, neptu, atau wuku dari tanggal lahir Anda? Gunakan fitur Cek Weton di Kalender Edukasi. Cukup masukkan tanggal, dan sistem akan menampilkan lengkap:

  • Hari & pasaran
  • Weton
  • Neptu hari dan pasaran
  • Wuku

Kalender Jawa tetap hidup sampai sekarang โ€” bukan sekadar peninggalan, tapi bagian dari cara masyarakat Jawa memahami waktu dan menentukan langkah hidup.